Anak Indonesia Anak GENIUS -Anak Gunungkidul berkarakter tanpa kekerasan

Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan  Keluarga Berencana,  Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DP3AKBPMD) dalam hal ini Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak  dalam rangka memperingati Hari Anak tahun 2018 menyelenggarakan seminar sehari pada hari Sabtu (28/7) bertempat di Ruang Rapat I Setda Kabupaten Gunungkidul, dengan mengambil tema sesuai tema Hari Anak Nasional tahun 2018  yaitu Anak Indonesia Anak Genius. Seminar diikuti oleh kurang lebih seratus (100) anak yang merupakan perwakilan dari beberapa sekolah di Kota Wonosari. Sebagai nara sumber dihadirkan   Nyadi  Kasmorejo yang lebih dikenal dengan nama Ki Jenggot Kucir dari Yayasan  Lembaga Perlindungan  Anak   Yogyakarta dan Adnan Yuniar Kumoro Jati (enterprenur muda sekaligus Praktisi Perlindungan Anak).

Dalam  pengarahannya Kepala DP3AKBPMD menyampaikan bahwa anak-anak adalah generasi harapan bangsa,  di tangan anak-anaklah  keberlanjutan bangsa dan negara ini di masa yang akan datang. Oleh Karena itu anak-anak harus bisa memanfaatkan masa muda dengan sebaik-baiknya, untuk tidak melakukan hal-hal yang merugikan, memanfaatkan kemajuan teknologi untuk kepentingan belajar dan tidak menyalah gunakannya.  Pernikahan di usia anak menjadi tantangan bagi Pemerintah untuk pencegahannya, namun tidak akan berhasil  tanpa peran serta masyarakat dan anak-anak sendiri. Sehingga anak-anak harus tahu akibat-akibat  dari pernikahan usia anak. Selain kehilangan masa anak-anak, secara biologis, psykhologsi dan ekonomis juga akan berdampak negatif.   

Bagaimana menjadi anak Gunungkidul berkarakter tanpa kekerasan, diulas oleh Nyadi Kasmorejo diungkapkan  bahwa setitik kesalahan akan menenggelamkan masa depan anak, hal ini disebabkan terkadang anak melakukan  perbuatan  tanpa perhitungan  yang berakibat fatal berujung pada kesalahan yang dibebankan pada anak sehingga anak akan mendapat cap negatif.  Oleh sebab itu penting bagi anak-anak untuk bisa mengenali diri sendiri, kelebihan dan kekurangannya  dan memahami setiap yang dilakukan serta membuat rencana apa yang akan dilakukan.

Sementara praktisi perlindunagn anak Adnan Yuniar Kumoro Jati yang lebih sering dipanggil “Aad” menyampaikan bagaimana seharusnya anak-anak muda mensikapi kemajuan Teknologi Informasi terlebih bagaimana gadged bisa dimanfaatkan untuk membantu anak dalam belajar, mengerjakan tugas-tugas sekolah. Selain itu anak-anak sekarang sudah sangat canggih menggunakan gadget, kenapa tidak dimanfaatkan untuk hal-hal yang bisa menambah uang saku? Dengan berbisnis kecil-kecilan melalui gadget selain menambah teman juga akan melatih bagaimana mengatur strategi pemasaran. Namun Aad juga berpesan kepada anak-anak untuk hati –hati dalam menggunakan gadget, terutama dalam mengupload segala peristiwa melalui twitter, instragram maupun face book dan yang lain karena semua  data yang diupload  akan terekam dan akan bisa terlacak.    

Seminar diakhiri dengan diskusi dan tanya jawab,  pertanyaan yang diajukan terkait dengan bagaimana  memberikan pengertian kepada orang tua tentang kegiatan-kegiatan anak sehari-hari  yang cukup padat sehingga orang tua percaya bahwa anak-anak betul-betul berkegiatan positip. Disamping itu pertanyaan berkaitan dengan bagaimana anak mendapat perlindungan  atas apa yang telah dilakukan terutama untuk tindakan yang berakibat hukum. Sementara berkaitan dengan gadget, pertanyaan yang diajukan berkaitan dengan bagaimana menjalin relasi dengan orang-orang yang sudah terlebih dahulu memulai bisnins melalui gadget. Dari beberapa pertanyaan dan  pernyataan anak dapat disimpulkan bahwa  anak-anak sebenarnya cukup peka terhadap permasalahan-permasalahan yang ada disekitarnya dan berkeinginan untuk bisa menyelesaikannya.  Dengan  sering  mengikuti kegiatan seminar,  diskusi dan kegiatan sejenisnya bertemu dengan  para ahli dibidangnya maka wawasan pengetahuan anak akan semakin bertambah (erha)

Berita Terkait

Komentar via Facebook

Kembali ke atas