Tingkat Risiko Komplikasi pada Vasketomi itu Sangat Rendah

Bertempat di Balai Desa Salam Kecamatan Patuk, pada hari Selasa (6/10) berlangsung kegiatan, Sosialisasi Promosi Kesehatan Reproduksi. Kegiatan tersebut dihadiri oleh lebih kurang 60 orang kader Poktan dari 8 desa di Kecamatan Patuk, dari kantor Perwakilan BKKBN DI Yogyakarta, unsur  DP3AKBPMD Kabupaten Gunungkidul dan Kepala Puskesmas Patuk I, serta PKB Kecamatan Patuk.

Dalam sambutannya Kepala Desa Salam yang diwakili oleh Sekretaris Desa, Bustanudin, SPdI, mengatakan bahwa kesehatan reproduksi sangat penting dalam membangun terwujudnya kesejahteraan keluarga. Bahkan kespro itu sangat dibutuhkan oleh masyarakat di era milenial seperti saat ini.

Setelah sambutan Kepala Desa Salam, acara dilanjutkan dengan acara inti yaitu penyajian materi terkait kesehatan reproduksi yang disampaiakan oleh 3 (tiga) nara sumber masing-masing dengan pendekatan yang berbeda.

Penyajian materi  pertama tentang Kesehatan Reproduksi dan Masalah Ginekologi, disampaikan oleh dr Fathurrahman dari Kantor Perwakilan BKKBN DIY.

Dalam pemaparannya tentang kespro, dr Fathurrohman lebih menitikberatkan tentang vasektomi.  Ini penting disampaikan karena banyak pria yang merasa ragu melakukan vasektomi. Penyebab utamanya karena ketakutan suatu saat berubah pikiran dan ingin memiliki anak lagi. Penyebab lain karena takut gagal. Padahal semua dokter sepakat menyebutkan vasektomi adalah metode pengendali kelahiran yang sangat aman dan efektif.  Vasektomi adalah salah satu jenis operasi ringan dengan tingkat risiko terjadi komplikasi sangat rendah.  Biaya melakukan vasektomi lebih murah daripada biaya sterilisasi pada wanita (tubektomi).

Pada umumnya, tidak ada risiko serius setelah melakukan vasektomi. Air mani pasien akan diuji pada bulan-bulan pertama setelah operasi untuk memastikan tidak lagi mengandung sperma. Seperti halnya prosedur bedah lainnya, kemungkinan terjadi infeksi, bengkak, atau sakit berkepanjangan dapat saja terjadi.

Sementara Dra Dwi Iswantini selaku Kabid Dalduk dan KB DP3AKBPM dan D Gunungkidul  dengan materi Kesehatan Reproduksi. Dalam penyajiannya mengatakan bahwa meskipun Kecamatan Patuk sudah diguyur hujan dua kali, namun semangat para kader Poktan dalam mengikuti sosialisasi promosi kesehatan reproduksi sangat tinggi. Sebab biasanya kalau sudah turun hujan maka para kader terus bergegas ke ladang untuk tabor benih. Beliau mengapresiasi kinerja kader Poktan Kecamatan patuk. Lebih lanjut Dwi Iswantini dalam penyampaian materinya lebih fokus menyarankan kepada para kader agar:

  1. Menghindari pernikahan di bawah 20 tahun bagi wanita
  2. Rencanakan jumlah anak dan jarak kelahiran ideal (hindari 4T)
  3. Pemakaian kontarsepsi modern untuk mengatur jarak dan jumlah kelahiran.

Sebagai penyaji materi terakhir dalam acara ini yaitu dr Emilia Arum Pratiwi selaku Kepala Puskesmas Patuk I. Adapun materi yang disampaikan tentang Kesehatan Reproduksi Bagi Calon Temanten.

Dalam pemaparannya dr Emil lebih menitikbertakan  kepada kespro bagi caten. Menurut beliau, persiapan sebelum menikah salah satunya adalah pemeriksaan kesehatan di mana pada pemeriksaan kesehatan, mereka yang akan menikah akan dianjurkan untuk melakukan imunisasi. Imunisasi memang tidak wajib tetapi sangat dianjurkan untuk melakukan imunisasi sebelumnya karena imunisasi akan memberikan kekebalan pada tubuh seseorang  dari beberapa penyakit tertentu. Beberapa penyakit ini bisa menular saat kehamilan sehingga nantinya bisa menimbulkan kecacatan pada janin ataupun bisa menimbulkan sulit untuk hamil dan juga keguguran saat hamil.

Tujuan dari pemberian imunisasi TT sebelum menikah adalah untuk melindungi agar tidak terkena infeksi tetanus saat berhubungan seksual dan saat melahirkan serta mencegah terjadinya tetanus neonatorum atau infeksi tetanus pada bayi baru lahir. Pemberian imunisasi TT tidak ada kaitannya dengan seseorang sudah pernah berhubungan seksual atau belum. Tidak ada masalah apabila seorang wanita melakukan imunisasi TT meskipun sudah pernah berhubungan seksual.

Imunisasi TT juga tidak hanya dilakukan saat sebelum menikah. Imunisasi TT ulang diberikan 1 bulan setelah suntik pertama, 6 bulan setelah suntik kedua, 1 tahun setelah suntik ketiga, dan 1 tahun setelah suntik keempat. Total imunisasi TT adalah sebanyak 5 kali yang dapat memberikan perlindungan terhadap tetanus selama 25 tahun.

Setelah penyampaian materi dari ke 3 narasumber dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab dari peserta sosialisasi kespro.

Diakhir acara, Koordinator PKB Kecamatan Patuk, Drs Anggoro Triatmojo, mengharapkan kepada para peserta pertemuan agar dapat menyampaikan informasi dari hasil pertemuan ini di wilayah masing-masing. Acara diakhiri pada pukul 13.30 WIB dan ditutup dengan doa bersama.(*) [Jumadal, PKB Patuk]

Berita Terkait

Komentar via Facebook

Kembali ke atas